Wawancara Eksklusif: Bagaimana rasanya pindah kerja ke Jepang?

(This is the INDONESIAN VERSION of Exclusive Interview: What is it like moving to Japan for work?)


Wawancara Eksklusif adalah seri artikel hasil wawancara Tokhimo dengan para ekspatriat tentang pengalaman mereka. Kali ini, kami menghubungi Wasistha, seorang Manajer Hubungan Pelanggan di Jepang. Wasistha menyelesaikan kuliah jurusan Sastra Jepang di Indonesia, kemudian bekerja sebagai interpreter bahasa Jepang selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya pindah ke Jepang. Ini adalah tahun kelimanya menjadi ekspatriat.


Profil

Negara Asal: Indonesia

Di Jepang sejak: 2017

Kemampuan Bahasa Jepang: full professional

Industri: IT


Mengapa Anda awalnya datang ke Jepang?

Saya direkrut ketika bekerja sebagai penerjemah lepas bahasa Jepang. Saya menemani klien yang sedang melakukan kunjungan ke calon mitra. Dia adalah CEO dari sebuah perusahaan pariwisata di Tokyo. Saat itu, saya ikut memberi masukan dan bertukar wawasan karena saya memiliki pengalaman di bidang tersebut. Klien saya tertarik dan mengajak saya bekerja

di perusahaannya.


Sejujurnya, saya ingin pergi ke Jepang untuk sekolah pascasarjana, bukan untuk bekerja. Saya menerima tawaran tersebut dengan harapan saya akan dapat melanjutkan studi setelah tiba di sana. Saya belum berkesempatan untuk kuliah lagi sampai sekarang, tapi keinginannya masih ada.


Bagaimana kemampuan bahasa Jepang Anda/Berapa level JLPT Anda sebelum pergi ke Jepang?

Saya punya JLPT N3 ketika lulus dari universitas pada tahun 2013. Setahun kemudian, saya berhasil mencapai tingkat N2. Saya tidak pernah mengikuti tes JLPT sejak itu.


Apakah Anda pernah bekerja dengan orang Jepang atau di perusahaan Jepang sebelum datang ke Jepang?

Saya selalu bekerja dengan orang Jepang. Setelah lulus, saya bekerja sebagai penerjemah lisan bahasa Jepang-Indonesia. Kemudian, saya bekerja di sebuah perusahaan pariwisata Jepang. Saya juga menjadi interpreter lepas selama hampir dua tahun. Saya justru tidak pernah bekerja di bawah selain orang Jepang.


Apakah itu membantu karir Anda di Jepang?

Iya, tentu saja. Itu membantu mengurangi culture shock ketika datang ke Jepang karena saya sudah terbiasa dengan etika kerja orang Jepang. Itu juga membantu meningkatkan kemampuan bahasa saya. Meskipun saya lulus dari jurusan Sastra Jepang, kemampuan bicara bahasa Jepang saya terbatas. Saya hanya belajar dari buku saat kuliah.


Apa perbedaan yang Anda hadapi saat pertama bekerja dengan orang Jepang?

Dulu saya berpikir jika karyawan sudah menyelesaikan pekerjaan mereka untuk hari itu, mereka tidak punya alasan untuk lembur. Saya terkejut bahwa budaya kerja Jepang mengharuskan karyawan untuk tetap di kantor setelah jam kerja berakhir atau menunggu sampai atasan mereka pulang terlebih dahulu agar dinilai sebagai pekerja keras. Tetapi, hal ini tidak selalu terjadi. Saya tidak mengalaminya di beberapa perusahaan tempat saya bekerja.


Apa saran Anda kepada orang-orang yang berurusan dengan masalah ini?

Saya pikir berani mengungkapkan pendapat itu bagus. Jika Anda tidak dapat berbicara langsung dengan atasan Anda, cobalah untuk setidaknya mendiskusikannya dengan departemen SDM (HR) atau siapa pun yang dapat membantu. Jangan jadi yes-man atau orang yang selalu mengiyakan apapun. Anda akan terus mengalami kesulitan jika tidak pernah menyampaikan pendapat.


Apakah Anda memiliki mentor atau siapa saja yang membantu Anda beradaptasi dengan perbedaan budaya?

Ya. Untungnya, ketika saya baru lulus, saya memiliki senior universitas yang bekerja di perusahaan yang sama. Dia mengajari saya budaya kerja Jepang. Itu sangat membantu saya. Ketika saya datang ke Jepang, saya juga memiliki senior universitas di sana. Mereka banyak membantu saya karena walaupun bisa bahasa Jepang, saya tidak tahu bagaimana memulai hidup di Jepang.


Apa perbedaan gaya komunikasi di lingkungan kerja di Jepang?

Orang Jepang sangat detail. Mereka biasanya memberikan instruksi yang jelas dan mematuhi jadwal. Menurut saya, ini sangat efektif karena saya bisa membuat skala prioritas untuk mengatur tugas-tugas saya. Mereka juga suka memikirkan dua atau tiga langkah ke depan. Jadi, ketika tugas selesai, tidak perlu banyak revisi atau koreksi. Semuanya telah dikomunikasikan sebelumnya.

Selain itu, orang Jepang sangat menghormati satu sama lain. Mereka selalu menggunakan tolong, maaf, dan terima kasih. Ini hal yang sederhana, namun banyak orang yang tidak menggunakan kata-kata tersebut, terutama atasan kepada bawahannya.


Pernahkah Anda mengalami kesulitan berkomunikasi di kantor?

Saya masih bingung dengan budaya honne dan tatemae di Jepang. Orang-orang di sini sangat baik, tetapi saya kesulitan dalam berteman. Saya tidak tahu apakah rekan kerja saya hanya bersikap sopan atau apakah mereka benar-benar ingin pergi bersama di luar jam kantor. Ketika seseorang memuji saya, saya tidak yakin apakah itu tulus atau sekadar tatemae. Agak mirip dengan budaya basa-basi di Indonesia, tapi untuk situasi honne dan tatemae, saya tidak bisa membedakannya sama sekali.


Apakah Anda memiliki saran tentang berteman di Jepang?

Bagi orang asing, akan sangat baik untuk bergabung dengan setidaknya satu komunitas. Melalui komunitas, mereka dapat berbagi tentang kehidupan dan menemukan orang yang dapat diandalkan apabila terjadi sesuatu. Ini penting karena mereka sendirian dan jauh dari keluarga dan rumah. Kalau saya, saya memastikan bahwa saya memiliki seseorang di Jepang sebelum pindah ke sini.


Apakah ada komunitas yang akan Anda rekomendasikan untuk orang Indonesia di Jepang?

Ada grup Facebook ekspatriat Indonesia. Namanya Komunitas Indonesia di Jepang atau Indonesian community in Japan (ICJ). Ada ribuan anggotanya. Mereka memposting informasi yang berguna seperti hal-hal terkait pekerjaan dan pajak, serta berbagi pengalaman mereka tinggal di Jepang. Saya tidak pernah bertemu dengan siapa pun melalui grup itu, tetapi sepertinya anggota grup lain terkadang melakukan kopi darat.


Apa yang kamu rindukan dari Indonesia?

Makanan! Sayangnya, saya tidak menikmati makan seperti dulu di Indonesia. Ada beberapa restoran Indonesia di Tokyo, tetapi tidak praktis untuk makan di sana setiap hari. Pilihan makanan di Jepang juga terbatas karena alasan agama.


Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Dengan memasak sendiri atau membeli makanan Indonesia secara online. Banyak sekali orang Indonesia, khususnya ibu rumah tangga, yang berjualan masakan rumahan di Instagram. Biasanya saya melakukan riset kecil-kecilan sebelum order, seperti melihat-lihat postingan mereka, membaca testimoni, dan bertanya kepada teman-teman apakah mereka sudah pernah mencoba makanan itu.


Adakah hal lain yang kamu rindukan dari Indonesia?

Saya juga rindu ojek online karena sangat praktis dan terjangkau. Di Jepang hanya ada taksi mobil, dan itu pun mahal. Semua orang di sini menggunakan transportasi umum, tetapi tetap saja tidak sepraktis ojek di Jakarta.

 

Looking for career opportunities in Japan?


Create your profile in Tokhimo and let recruiters approach you!

Set up your account easily and for free.







閲覧数:238回0件のコメント

最新記事

すべて表示